Kamis, 12 Februari 2015

Rudolph 2013, Evolusi dari semburan mud volcano Lusi ditentukan berdasarkan deformasi tanah

LUSI LIBRARY KNOWLEDGE MANAGMENT

EBOOK LUSI

MAKALAH KUNCI PENDEKATAN DEFORMASI DALAM MENENTUKAN SKENARIO OPTIMIS LUSI SEMBURAN LUSI AKAN BERHENTI LEBIH CEPAT DARIPADA METODA SEBELUMNA, VOLUME SUMBER LUMPUR-AIR DIBAGI KECEPANTAN SEMBURAN

Makalah Utama:



Panjang Kehidupan Lusi mud volcano ~ 12 tahun, perkiraan flowrate tahun 2018 ~1000m3, menggunakan pendekatan Deformasi Amblesan GPG-InSAR
Suatu revolusi dimana sebelumnya model panjang semburan Lusi berdasarkan perhitungan volume sumber lumpur, sumber air, di bagi dengan flowrate rata-rata 90.000m3. 
Fakta penurunan amblesan secara peluruhan eksponensial (exponential decay) juga diterapkan/dianut oleh Andreas (2010-2011-2012-2014), Shilston (2014), Aoki(2014) dan paling terakhir Tingay (2015).






Evolusi dari semburan mud volcano Lusi ditentukan berdasarkan deformasi tanah
Evolution and future of the Lusi mud eruption
inferred from ground deformation
M. L. Rudolph1,  M. Shirzaei1, M. Manga1, and Y. Fukushima 2
1 - Department of Earth and Planetary Science, University of California, Berkeley, California, USA.
2 - Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University, Uji Prefecture, Japan
Original Article:Rudolph_etal_Lusi_InSAR.pdf
Modified Figures Captions: rudolph2013.pdf
Lusi Library:
Pengantar (Hardi) terhadap Evolusi Pemahaman Lusi ke Depan
Lusi sebagai mud volcano terbesar dan paling cepat tumbuh, di seluruh dunia:
Lusi  mud volcano sebagai suatu mud volcano yang berdimensi besar dan telah umum disebut sebagai suatu semburan terbesar di dunia, disamping sebagai mud volcano yang cepat tumbuh sampai pada tahap ambles di bawah kawahnya sendiri.
Peluang emas mempelajari mud volcano sejak lahir, tumbuh berkembang menjadi geyser dengan intensitas terbesar di seluruh dunia:
Disamping itu yang unik dan memberikan rasionalisasi Lusi ke kedepan (what next) adalah, membuka peluang emas untuk mengamati suatu mud volcano dari saat kelahirannya (29 Mei 2006) di dekat daerah permukiman dan pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya berkembang menjadi suatu mud volcano yang paling dahsyat di dunia, dengan semburan liar yang merusak pernah mencapai kecepatan semburan  yang fantasis 180.000m3/hari.
Semburan yang dahsyat dibarengi dengan Kecepatan amblesan yang luar biasa, Implikasinya: Pusat semburan Lusi condong ke utara
Dibarengi dengan kecepatan amblesan deformasi tanah dengan intensitas yang spektakuler antara 4cm/hari (2006-Mei 2008). Sampai even runtuh seketika  5m/malam tahun Juni 2008, dimana implikasinya Pusat Semburan LUSI condong ke utara, sehingga pengaliran lumpur melalui mekanisme Tanggul Utama (Kanal Barat) menjadi tidak berfungsi.
Even Tanggul Cincin lenyap dari Postur Lusi mud volcano, Implikasi pada pertumbuhan Lusi semakin alami:

Mei Tahun 2009, Tanggul Cincin (ring dike) dinyatakan lenyap, sehingga Lusi berkembang menjadi suatu mud volcano yang lebih alami, tahap awal membentuk Danau Lusi, wilayah Kawah dan Lereng dikelilingi oleh depresi yang diisi oleh air.
2010 dideklarasikan terjadinya perubahan mendasar Postur dan Perilaku semburan serta deformasi amblesan:
Tahun 2010, dideklarasikan terjadi perubahan mendasar Postur dan Perilaku Lusi. Membentuk morfologi kubah tidak simetris, semburan dengan pola geyser didominasi oleh uap air (98%) dan gas karbon dioksida (1,8%) dan sisa gas metan. Kecepatan semburan menurun drastis dari rata-rata 100.000m3/hari menjadi sekitar 25.000m3/hari.
Dibarengi dengan penurunan kecepatan amblesan dengan  intensitas sentimeter atau milimeter pertahun, sebelumnya 4 cm/hari, dengan pola peluruhan yang eksponensial (eksponensial decay).
Simposium Internasional Lusi mud volcano (2011) sebagai titik balik Paradigma Baru dari Kontroversi ke Solusi terkait pemicu semburan Lusi, kecepatan semburan disepakati pada 10.000m3/hari:
Mei 2011 tercatat sebagai suatu even penting, ketika para ahli  mud volcano dari manca negara secara bersama-sama menjelajah gunung Lusi di utara Dome, untuk menyaksikan sendiri perubahan mendasar dari postur dan perilaku semburan Lusi.
Hal  yang paling mendasar adalah terbangun kebersamaan sebagai paradigma baru, mencari solusi terhadap penyebab dan pemicu Lusi yang sebelumnya kontroversial. Juga terbangun kebersamaan dengan membentuk Lusi Research Network (LRN).
Disamping itu BPLS telah membangun DOME LUSI di lokasi strategis selatan Lusi mud volcano untuk mendukung kegiatan para ahli kebumian di luar negeri. Sebagai ujicoba adalah dibangun jaringan internet CCTV dengan Arizona State University, USA. Sehingga pola semburan geyser bersiklus, dapat secara langsung (online) diamati di ASU.
Pandangan revolusioner Lusi sebagai mud volcano yang tidak lumrah, mempunyai hubungan dengan sistem hidrotermal gunung magmatik Penanggungan-Welirang:
2012 semakin mengemuka diungkapkan pandangan yang diawali tahun 2011 pada Simpsium Lusi, bahwa Lusi bukan merupakan suatu mud volcano yang umum (type mud volcano) tapi suatu yang tidak lumrah (atype mud volcano).
Sehubungan temuan bahwa Lusi mud volcano mempunyai hubungan dengan sistim hidrotermal dalam (deep hydrothermal system) dengan keberadaan gunung magmatik Penanggungan-Welirang-Arjuno sebagai bagian dari “Ring of Fire” dari sistem Busur Sunda.
Semburan Lusi dengan pola Geyser pada tingkat rendah diselingi muntahan lumpur pekat (temporal), terjadi penurunan intensitas deformasi dengan pola peluruhan eksponensial serta implikasinya pada perkiraan umur semburan Lusi lebih pendek, dibarengi perkembangan proses pembentukan kaldera
2012 – 2014 merupakan pemantapan tahap Semburan Lusi mud volcano pada level intensitas rendah, sebagaimana yang telah deklarasi tahun 2010
·      Walaupun masih diselingi pulsa banjir bandang lumpur pekat antara lain Even Kelud (Februari 2014) dan Even TNI 69 (5 Oktober 2014) dengan intensitas yang luar biasa serta implikasinya saat ini Lusi mencari keseimbangan baru.
·      Disamping itu fakta Juli-Oktober 2014 telah memperlihatkan indikasi terjadinya proses pembentukan kaldera (caldera formation processes), antara lain berkembangna struktur patahan kaldera yang ideal di selatan Lusi.
·      Disimpulkan bahwa Lusi mud volcano sudah relatif mendekati masa akhir semburannya. Sebagaimana hasil  pemodelan deformasi permukaan tanah dilakukan secara terpisah oleh ilmuwan dari beberapa negara, menunjukkan adanya penurunan eksponensial.
·      Sehingga diperkirakan pada tahun 2017 semburan Lusi bisa berada pada level 1000m3/hari. Kondisi dimana Lusi dapat lebih terkendali.
Pertanyaan mendasar apakah akan dapat perulangan semburan Lusi pada level menengah-tinnggi?
Suatu masalah ilmiah yang belum dapat dituntaskan, apakah semburan geyser Lusi mud volcano dapat megalami perulangan semburan besar dalam intensitas > 50.000m3/har (rata-rata)?
Apakah 2 tubuh mud diapir yang ditemukan oleh tim Rusia dapat diklarifikasikan?
Apakan identifikasi terhadap adanya 2 tubuh mud diapir selain Lusi dapat dikonfirmasi keberadaannya? Untuk menjawab apakah ia dapat berkembang menjadi Lusi yang baru?
Skenario terburuk Struktur Runtuh Porong-1 apakah masih relevan dengan dinamika Lusi saat ini dan kedepan?
Analogi terhadap dari Struktur Porong-1 awalnya relevan ketika pada awal perkembangan Lusi mud volcano intensitas deformasi amblesan sebesar 4cm/hari bahkan mengalami runtuh seketika sebesar 5m/hari.
Namun dengan fakta bahwa telah terjadi pengurangan intensitas deformasi amblesan dengan pola peluruhan eksponensial, maka skenario terburuk Porong-1 dengan Lusi dapat diredam.
Struktur Porong-1 lebih relevan dalam korelasi stratigrafi dari lapisan batugamping terumbu.
Arah ke depan:
Fokus perhatian para ilmuwan masih berfokus apakan anatomi dan pengendali mekanisme Lusi, serta hubungan Lusi dengan sistem hidrotermal dalam?

 Pokok-pokok Bahasan dan Kata Kunci
Sari
·      Peluang emas mempelajari semburan Lusi mud volcano: 
·      Semburan Lusi akan berhenti lebih cepat dari perkiraan sebelumnya:
·      Debit semburan akan menurun menjadi tingkat 10% dari tingkat selama 5 tahun belakangan ini:

 Diskusi
·      Perkiraan panjang umur semburan sebelumnya didasarkan pada perkiraan debit lumpur dan beberapa konsepsi model semburan:
·      Volume semburan diperkirakan dari ketebalan batuan sumber dan luas sebarannya:
·      Dari ketebalan sumber lumpur, dibagi volume lumpur didapatkan perkiraan konservatif panjang umur 25-35 tahun:
·      Perkiraan panjang umur tidak membuat asumsi tentang mekanisme semburan:
·      Salah satu model bahwa semburan berlanjut oleh adanya akuifer karbonat dalam:
·      Satu model lainnya perhitungan panjang umur 26 tahun
·      Bukti baru laju menunjukan deformasi tanah menurun seiring perjalanan waktu:
·      Kaitan semburan, deformasi di permukaan dan tekanan dalam ruang lumpur di bawah permukaan
·      Peluruhan (penurunan) eksponensial skala waktu dari deformasi korelasi dengan debit semburan:
·      Perubahan debit semburan antara 2006-2012:
·      Perkiraan semburan pada tahun 2017 <10.000m3:
·      Skenario terbentuknya kaldera:
Pendahuluan

·      Semburan Lusi mud volcano menyediakan peluang mempelajari suatu mud volcano sejak saat lahir sampai menjelang akhirnya:
·      Dampak yang ditimbulkan:
·      Evolusi spasial dan temporal dari sumber pengumpan semburan tidak jelas:
·      Pengamatan baru deformasi tanah:
·      Semburan Lusi akan berhenti lebih cepat dari perkiraan sebelumnya:
·      Pengkajian sebelumnya menyimpulkan bahwa semburan akan berhenti  23-50 tahun:
·      Sebelumnya data deformasi tanah tidak digunakan untuk memperkirakan lama semburan Lusi:
·      Tingkat deformasi menyimpulkan terjadi penurunan tekanan di daerah sumber secara eksponensial:
·      Debit akan menurun  menjadi 10% dari tingkat 5 selama ini:


Sari


Peluang emas mempelajari semburan Lusi mud volcano: 
Semburan gunung lumpur Lusi (Lusi mud volcano) di Jawa Timur, Indonesia yang sampai saat ini masih terus berlangsung, sehingga menyediakan suatu kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam hal ini merupakan suatu peluang emas untuk mempelajari suatu semburan berukuran besar, mulai dari saat awal kejadiannya sampai mendekati pada masa akhir kehidupannya.
Pengamatan deformasi tanah baru, menunjukkan semburan Lusi akan berhenti lebih cepat dari perkiraan sebelumnya
Dengan menggunakan pengamatan deformasi tanah yang baru, diperoleh dari hasil analisis interferometrik multitemporal L-band data synthetic aperture radar (InSAR).
Telah menunjukkan bahwa Lusi akan berhenti menyembur lebih cepat daripada perkiraan yang telah dihasilkan sebelumnya.
Catatan:
Studi ini mempunyai nilai strategis, karena merubah paradigma bahwa semburan Lusi mud volcano akan berlangsung lama. Sebagaimana pemodelan yang dilakukan sebelumnya, yang umumnya menggunakan pendekatan konvensional menghitung volume sumber lumpur atau air di reservoir (misalnya Batulempung di Formasi Kalibeng, atau air di batugamping Formasi Kujung-1).
Sedangkan metoda yang dikembangkan pada studi ini adalah memodel fakta terdapatnya penurunan deformasi tanah (amblesan) dengan pola peluruhan eksponensial (exponantial decay), dengan asumsi bahwa deformasi tanah adalah hasil dari semburan lumpur.

Debit semburan akan menurun menjadi tingkat 10% dari tingkat selama 5 tahun belakangan ini
Analisis dengan menggunakan komponen utama, telah ditemukan bahwa kecepatan deformasi tanah (rate subsidence), dan dengan implikasi, terhadap tekanan di daerah sumber lumpur, telah berkurang secara eksponensial dengan skala bebarapa kali lipat dari ± 21,04  tahun. 
Diperkirakan bahwa debit semburan akan menurun menjadi 10% dari tingkat yang terjadi selama 5 tahun kebelakang. (We anticipate that discharge will decrease to 10% of the present rate in 5 years).
Catatan:
Hasil penting bahwa adanya fakta bahwa telah terjadi penurunan kecepatan semburan secara eksponensial, sehingga disimpulkan bahwa pada 5 tahun ke depan (2017) kecepatan semburan akan berada 10% dari tingkat saat dilakukan perhitungan (2013) yaitu 10.000m3/hari.

 Diskusi

Perkiraan panjang umur semburan sebelumnya didasarkan pada perkiraan debit lumpur dan beberapa konsepsi model semburan

Usaha-usaha yang telah dilakukan sebelumnya untuk memperkirakan panjang umur dari semburan  Lusi (estimate the longevity of the Lusi eruption) telah mengandalkan secara signifikan pada perkiraan debit lumpur (estimates of mud discharge), dikombinasikan dengan beberapa model konseptual untuk mekanisme semburan (differing conceptual models for the mechanics of the eruption).

Volume semburan diperkirakan dari ketebalan batuan sumber dan luas sebarannya
Volume semburan lumpur (The volume of erupted mud) diperkirakan dari survei lapangan rinci terhadap ketebalan  sedimen (deposit thickness). 
Dikombinasikan dengan perkiraan luas dari sebarannya (estimates of inundated area), berdasarkan citra satelit [11].
Ketebalan sumber lumpur dibagi volume lumpur didapatkan perkiraan konservatif panjang umur 25-35 tahun.
Menggunakan perkiraan ketebalan sumber lumpur  (mud source thickness) dan luasnya sebaran yang berasal dari profil seismik refleksi dan survei gayaberat  (aerial extent derived from seismic reflection profiles and gravity surveys), [11] telah diperoleh perkiraan panjang umur konservatif (conservative estimate of longevity) berkisar 23-35 tahun.
Hal ini didapat dengan membagi volume lumpur yang tersedia dengan debit volumetric (available volume of mud by the volumetric discharge).

Perkiraan panjang umur tidak membuat asumsi tentang mekanisme semburan
Sedangkan perkiraan panjang umur [11] tidak membuat asumsi tentang mekanisme semburan (no assumptions about the mechanics of the eruption), perkiraan berikutnya telah diandalkan model mekanik semburan (mechanical models of the eruption) [6,17].

Salah satu model bahwa semburan berlanjut oleh adanya akuifer karbonat dalam
Dengan mengambil pendekatan Monte-Carlo untuk mengeksplorasi pengaruh parameter model yang tidak diketahui, perkiraan panjang umur probabilistik (probabilistic longevity estimates) dapat dihasilkan dari model mekanis tersebut.
[6] diasumsikan bahwa semburan berlanjut  oleh adanya  overpressure dari akuifer karbonat yang dalam (assumed that the eruption is sustained by overpressure in a deep carbonate aquifer).
Air naik keatas dari akuifer ini dan membawa lumpur pada tingkat yang sebanding dengan debit air (entrains mud at a rate proportional to the water discharge).

Satu model perhitungan panjang umur 26 tahun
Sementara itu dengan menggunakan model konseptual, perkiraan panjang umur 50 persentil adalah 26 tahun [6]. [17] Diusulkan sebuah model konseptual yang berbeda untuk semburan (conceptual model for the eruption).
Dimana  didorong oleh overpressure di daerah sumber lumpur dan larutan padat gas dan ekspansi (the eruption is driven by overpressure in the mud source region and gas exsolution and expansion), dan sumber lumpur mengembang selama semburan seperti lumpur semakin dimobilisasikan (the mud source expands during the eruption as mud is progressively mobilized).
Menggunakan model konseptual ini,  Pada Rudolph: 2011 menggunakan distribusi probabilitas yang berbeda untuk parameter model yang tidak diketahui, diperoleh  perkiraan panjang umur 50 persentil  antara 25-50 tahun.

Bukti baru  laju deformasi tanah menurun seiring perjalanan waktu
Berdasarkan evolusi koefisien amplitudo temporal dari komponen utama deformasi tanah (the evolution of the temporal amplitude coefficient of the first principal component of the ground deformation) (Gambar 2), kami simpulkan bahwa laju deformasi tanah menurun terhadap waktu (the rate of ground deformation is decreasing in time).
Kaitan semburan, deformasi di permukaan dan tekanan dalam ruang lumpur di bawah permukaan
Jika lumpur yang disemburkan dari sebuah ruang dengan batas-batas spasial yang tetap dan sekitarnya elastis (a chamber with fixed spatial boundaries and elastic surroundings), deformasi di permukaan akan linier sebanding dengan perubahan tekanan dalam ruang lumpur (surface deformation is linearly proportional to the change in pressure within the mud chamber).
Berdasarkan asumsi ini, evolusi dari koefisien amplitudo temporal (the evolution of the temporal amplitude coefficient) dapat digunakan secara langsung sebagai pendekatan  untuk evolusi tekanan pada sumber lumpur (as a proxy for the evolution of pressure in the mud source), dan skala waktu peluruhan eksponensial dari deformasi tanah (the exponential decay time scale of the ground deformation) (21 ± 04 tahun Adalah sama dengan peluruhan eksponensial skala waktu tekanan di daerah sumber lumpur (the exponential decay time scale of pressure in the mud source region).
Peluruhan (penurunan) eksponensial skala waktu dari  deformasi versus debit semburan
Karena debit adalah berbanding lurus dengan pengendali gradien tekanan  (the driving pressure gradient).
Sedangkan saluran geometri dan reologi lumpur adalah konstan, kita dapat menggunakan peluruhan eksponensial skala waktu terkait dengan deformasi tanah langsung sebagai pendekatan untuk peluruhan eksponensial skala waktu dari debit (the exponential decay time scale associated with ground deformation directly as a proxy for the exponential decay timescale of discharge) .
Aliran  dari ruang lumpur yang overpressured (Discharge from an overpressured mud chamber) dengan lingkungan yang elastis diharapkan secara eksponensial menurun, sebagai hasil yang berlaku terlepas dari apakah larutan padat volatil terjadi pada sumber lumpur [20].
Perubahan debit semburan 2006-2012
Kecepatan aliran Lusi (Discharge from Lusi) pada akhir tahun 2006 [13] adalah sebesar 100.000m3/hari dan  kemudian menurun saat studi dilakukan menjadi 10.000m3/hari[15].
Telah diplot debit pengukuran aliran petak bersama-sama mencocokan secara eksponensial dengan pengukuran debit (an exponential fit to the discharge measurements) dengan  rumus y = exp (-t / b) dalam Gambar 3.
Waktu kelipatan (b) yang diperoleh dengan mencocokkan pengukuran debit yaitu 12,08 ± tahun.
Ketidakpastian yang dilaporkan harus dipandang sebagai batas bawah dari metodologi, waktu, dan ketidakpastian yang berhubungan dengan pengukuran debit tidak didokumentasikan dalam literatur.
Dengan demikian, kita menemukan bahwa evolusi semburan disimpulkan dari pengukuran debit adalah konsisten dengan (meskipun kurang tertentu daripada) hasil pengamatan geodesi yang dilaksanakan penulis.

Perkiraan semburan pada tahun 2017 <10.000m3
Dengan asumsi bahwa perilaku semburan selama enam tahun terakhir berlanjut sama (misalnya tidak ada pembentukan kaldera dan ruang lumpur dan geometri saluran tidak berubah), kami berharap bahwa debit di Lusi akan menurun dengan besarnya untuk <10.000m3/hari pada 2017 ± 1 tahun.
Karena semburan berlanjut, tekanan elastis dihasilkan sebagai respon dari penarikan lumpur dari kedalaman akan terus meningkat, dan tekanan ini masih bisa menjadi cukup besar untuk memobilisasi lumpur tambahan [17] atau untuk menyebabkan kaldera terbentuk (a caldera to form).

Skenario terbentuknya kaldera
Jika terbentuk suatu kaldera, tekanan di daerah sumber lumpur tidak lagi diperkirakan akan menurun secara eksponensial terhadap waktu.
Sebaliknya, tekanan akan dihalangi oleh penutup (overburden) kaldera (pressure will be buffered by the overburden of the caldera’s), yang akan diselaraskan dengan sekitarnya oleh gesekan pada kaldera yang dibatasi patahan-patahan (friction on Caldera-bounding faults)
Jika ada reservoir  fluida eksternal yang terlibat dalam semburan (external fluid reservoir involved in the eruption) [6,15], penilaian panjang umur (longevity assessment)  tidak akan terpengaruh.
Karena deformasi permukaan (surface deformation) akibat dari penarikan lumpur yang menjadi aliran dari semburan air, dan tingkat aliran berkaitan dengan debit (dan overpressure dalam) fluida reservoir eksternal hipotetik, dimana tekanan diperkirakan menurun secara eksponensial terhadap waktu (pressure is expected to decrease exponentially in time).
Pengamatan baru menunjukkan bahwa semburan lusi akan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya

Kami menyajikan pengamatan baru deformasi tanah (new observations of ground deformation) yang menunjukkan bahwa Lusi akan berhenti menyembur lebih cepat dari yang diantisipasi sebelumnya (Lusi will stop erupting much sooner than previously anticipated) [11,6,17].
Perkiraan umur semburan sebelumnya 23-50 tahun berdasarkan perkiraan debit 3 tahun pertama

Penilaian sebelumnya bahaya yang ditimbulkan (Previous assessments of the hazard) oleh Lusi mengandalkan perkiraan dari debit selama tiga tahun pertama dari semburan [13,19,11], dimana disimpulkan bahwa semburan akan berlangsung 23-50 tahun [11,6,17].

Selama ini fenomena deformasi tanah belum digunakan untuk memperkirakan panjang umur semburan
Meskipun deformasi tanah dekat Lusi telah digunakan sebelumnya untuk mengkarakterisasi pola spasial dan laju amblesan (the spatial pattern and rate of subsidence) [1] dan untuk mempelajari sumber dari deformasi tanah selama tahun pertama dari semburan [10].
Namun deformasi tanah belum digunakan secara langsung untuk memperkirakan panjang umur semburan (to estimate the longevity of the eruption).
Deformasi tanah akan menurun secara eksponensial dan debit akan menurun pada 5 tahun menjadi 10% dari kecepatan yang sekarang
Ditemukan laju deformasi tanah, dan dengan inferensi, tekanan di daerah sumber lumpur (pressure in the mud  source region), telah menurun secara eksponensial (decreasing exponentially) dan debit yang akan turun menjadi 10% dari tingkat yang terjadi pada 5 tahun  (discharge will decrease to 10% of the present rate in 5 years).

Pendahuluan

Semburan Lusi mud volcano menyediakan peluang mempelajari suatu mud volcano sejak saat lahir sampai menjelang akhirnya:

Semburan Lusi mud volcano yang masih berlangsung (The ongoing eruption of the Lusi mud volcano), di Jawa Timur, Indonesia (Gambar 1), menawarkan suatu kesempatan belum pernah terjadi sebelumnya.
Untuk mempelajari semburan yang besar dari awal sampai menjelang akhirnyanya (to study a large eruption from its beginning to its eventual end).
Dampak yang ditimbulkan:
Semburan ini telah menimbulkan kerusakan pada masyarakat lokal (This eruption has devastated local communities), mengungsikan lebih dari 60.000 orang dan menyebabkan  > $ 4B [16].
Evolusi spasial dan temporal dari sumber pengumpan semburan tidak jelas:
Meskipun upaya yang signifikan untuk memahami letusan dan memprediksi umur panjang (Despite significant efforts to understand the eruption and predict its longevity) [11,6,17,15], evolusi spasial temporal dari sumber pengumpan semburan tidak dipahami dengan baik (the spatiotemporal evolution of the source feeding the eruption is not well understood.).
Pengamatan baru deformasi tanah:
Kami menyajikan pengamatan yang baru dari deformasi tanah (new observations of ground deformation).
Semburan Lusi akan berhenti lebih cepat dari perkiraan sebelumnya:
Dimana  menunjukkan bahwa Lusi akan berhenti menyembur lebih cepat, daripada yang diperkirakan sebelumnya (that indicate that Lusi will stop erupting much sooner than previously anticipated) [11,6,17].
Pengkajian sebelumnya menyimpulkan bahwa semburan akan berhenti  23-50 tahun:
Pengkajian  sebelumnya dari bahaya yang ditimbulkan oleh Lusi mengandalkan perkiraan debit selama tiga tahun pertama letusan (Previous assessments of the hazard posed by Lusi relied upon estimates of discharge during the first three years of the eruption) [13,19,11].
Telah menyimpulkan bahwa letusan akan berlangsung 23-50 tahun  (concluding that the eruption will last 23-50 years) [11,6,17].
Sebelumnya data deformasi tanah tidak digunakan untuk memperkirakan lama semburan Lusi:

Meskipun tanah deformasi dekat Lusi telah digunakan sebelumnya untuk menggambarkan pola spasial dan tingkat penurunan (Although ground deformation near Lusi has been used previously to characterize the spatial pattern and rate of subsidence) [1].
Juga untuk mempelajari sumber deformasi tanah selama tahun pertama dari (to study the source of the ground deformation during the first year of the eruption) [10].
Namun deformasi tanah tidak digunakan secara langsung untuk memperkirakan panjang umur semburan (ground deformation has not been used directly to estimate the longevity of the eruption).
Tingkat deformasi menyimpulkan terjadi penurunan tekanan di daerah sumber secara eksponensial:
Kami menemukan bahwa tingkat deformasi tanah (the rate of ground deformation), dan dengan kesimpulan, bahwa  tekanan dalam daerah sumber lumpur (pressure in the mud  source region), menurun secara eksponensial.
Debit akan menurun  menjadi 10% dari tingkat 5 selama ini:
Dimana debit akan turun menjadi 10% dari tingkat kecepatan saat ini pada 5 tahun tahun ke depan (is decreasing exponentially and that discharge will decrease to 10% of the present rate in 5 years).

References

[1]  Abidin, H. Z., R. Davies, M. Kusuma, H. Andreas, and T. Deguchi, Subsidence and uplift  of Sidoarjo (East Java) due to the eruption of the Lusi mud volcano (2006-present), Environmental Geology, 2008.

[2]  Bathke, H., M. Shirzaei, and T. R. Walter, Inflation and deflation at the steep-sided Llaima stratovolcano (Chile) detected by using InSAR, Geophys. Res. Lett, 38(10), L10,304,
2011.

[3]  Bjerhammar, A., Bjerhammar (1973) Theory of errors and generalized matrix inverses, Elsevier, Amsterdam, 1973.

[4]  Chen, C. W., and H. A. Zebker, Two-dimensional phase unwrapping with use ofstatistical models for cost functions in nonlinear optimization, Journal of the Optical Societyof America A: Optics, 18(2), 338–351, 2001.

[5]  Costantini, M., and P. A. Rosen, A generalized phase unwrapping approach for sparse data, inProceedings IEEE 1999 International Geoscience and Remote Sensing Symposium, pp. 267–269, IEEE, 1999.  

[6]  Davies, R. J., S. Mathias, R. E. Swarbrick, and M. Tingay, Probabilistic longevity estimate for the LUSI mud volcano, East Java, Journal of the Geological Society, 168(2), 517–523, 2011.
  
[7]  Eckart, C., and G. Young, The approximation of one matrix by another of lower rank,Psychometrika, 1(3), 211–218, 1936.

[8]  Farr, T. G., P. A. Rosen, E. Caro, R. Crippen, R. Duren, S. Hensley, M. Kobrick,M. Paller, E. Rodriguez, L. Roth, D. Seal, S. Shaffer, J. Shimada, J. Umland, M. Werner, M. Oskin, D. Burbank, and D. Alsdorf, The Shuttle Radar Topography Mission, Rev.Geophys., 45(2), 2007.  

[9]  Franceschetti, G., Synthetic aperture radar processing, CRC Press, Boca Raton, 1999.  

[10]  Fukushima, Y., J. Mori, M. Hashimoto, and Y. Kano, Subsidence associated with the LUSI mud eruption, East Java, investigated by SAR interferometry, Marine and PetroleumGeology,26(9), 1740–1750, 2009.  

[11]  Istadi, B., G. Pramono, and P. Sumintadireja, Modeling study of growth and potential geohazard for LUSI mud volcano: East Java, Indonesia, Marine and Petroleum Geology, 26, 1724–1739, 2009.

[12]  Jolliffe, I., Principal Component Analysis, Springer-Verlag, 1986.

 [13]  Mazzini, A., H. Svensen, G. Akhmanov, G. Aloisi, S. Planke, A. Malthe-Sørenssen, and B. Istadi, Triggering and dynamic evolution of Lusi mud volcano, Indonesia, Earth andPlanetary Science Letters, 261, 375–388, 2007.  

[14]  Mazzini, A., A. Nermoen, M. Krotkiewski, Y. Podladchikov, S. Planke, and H. Svensen, Strike-slip faulting as a trigger mechanism for overpressure release through piercement structures. Implications for the Lusi mud volcano, Indonesia, Marine andPetroleum Geology,26(9), 1751–1765, 2009.  

[15]  Mazzini, A., G. Etiope, and H. Svensen, A new hydrothermal scenario for the 2006 Lusi eruption, Indonesia. Insights from gas geochemistry, Earth and Planetary Science Letters, 317–318(0), 305–318, 2012.

[16]  Richards, J. R., Report into the Past, Present, and Future Social Impacts of Lumpur Sidoarjo,Tech. rep., Humanitus Sidoarjo Fund, 2011.

[17]  Rudolph, M. L., L. Karlstrom, and M. Manga, A prediction of the longevity of the Lusi mud eruption, Indonesia, Earth and Planetary Science Letters, 308(1-2), 124–130, 2011.

[18]  Shirzaei, M., A Wavelet-Based Multitemporal DInSAR Algorithm for Monitoring Ground Surface Motion, IEEE Geoscience and Remote Sensing Letters, PP(99), 1–5, 2012.

[19]  Tingay, M., O. Heidbach, R. Davies, and R. Swarbrick, Triggering of the Lusi mud eruption: Earthquake versus drilling initiation, Geology, 36(8), 639–642, 2008.


[20]  Woods, A. W., and H. E. Huppert, On magma chamber evolution during slow effusive eruptions, J. Geophys. Res., 108(B8), 2403, 20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar