Minggu, 21 Februari 2016

00 TINJAUAN AKHIR AHLI LUSI TAHUN 2015: Fukushima 2009

SERI LUSI PUSAT UNGGULAN LABORATORIUM ALAM, STUDI MUD VOLCANO DI DUNIA
JAMBORA AHLI LUSI
FUKHUSHIMA 2009, DEFORMASI

Dikontribusikan Oleh Prof. Dr. Hardi Prasetyo
LUSI LIBRARAY KNOWLEDGE MANAGEMENT untuk Pendidikan Publik

00 TINJAUAN AKHIR AHLI LUSI TAHUN 2015: Fukushima 2009: LUSI LIBRARY FILE EBOOK LUSI DEFORMASI AMBLESAN GPS DAN INSAR "Bukti Semburan Lusi memicu terjadinya Semburan, dengan tiga elip InSA...

Kamis, 18 Februari 2016

Bagian II. Shilstone LUSI: Geologi dan Keteknikan dari suatu Bencana Mud Volcano di Jawa

LUSI LIBRARY FILE

MENGIKUTI CERAMAH LUSI DI FORUM INTERNASIONAL, SECARA IMAJINER
SHILSTON 2014



Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Ilmu dan Knowledge untuk Diamalkan dan Dimanfaatkan sekecil apapun



“Mengikuti secara Ceramah  Imajiner David Shilstone selaku Presiden Komunitas Geologi di London Geological Society London (GSL)”               

Dr. David Shilston, Ketua Geological Society London, UK
23 Januari 2014, di GSL London


Ditinjau oleh Dr. Hardi Prasetyo, dalam rangka even Lusi 8 Tahun

BAGIAN II: 




Pendahuluan
Perubahan mendasar penurunan semburan dan amblesan:
Kurva kecepatan semburan (flowrate eruption) dan kecepatan amblesan(subsidence  rate) versus waktu, memperlihatkan suatu pola terjadinya penurunan atau peluruha nyang eksponensial (exponential decay), titik control tahun 2007 sebesar 170m3/hari dan tahun 2011 sekitar 10.000m3/hari (sumber Rudolph 2013);
Indikasi mud volcano purba Porong-1:
Penampang seismik refleksi melalui lokasi sumur eksplorasi Porong-1, menekankan terdapatnya indikasi struktur pembubungan (pierecement structure).
Dicirikan oleh lapisan sedimen dengan pemantul yang lemah berbentuk elip atau kubus. Hal ini selanjutnya akan disajikan sebagai suatu fenomena mud volcano purba (paleo mud volcano, Porong-1).
Dampak luapan lumpur:
Dampak langsung dari semburan-luapan lumpur pada awal terjadinya semburan Lusi mud volcano yang dahsyat, dimana diperlihatkan rumah warga yang tersisa atapnya.
Pengaliran Lumpur ke K Porong:
Pipa outlet mengeluarkan lumpur di Kali Porong, sebagai bagian sistem pengendalian lumpur ke laut melalui Kali Porong.
Sebelumnya dikhawatirkan banyak pihak karena dapat mencemari lingkungan, di sepanjang daerah alirannya.
Dari hulu (sekitar outlet) sampai ke muara termasuk pesisir Selat Madura (coastal zone of Madura Strait).
Dampak geohazard dan lingkungan:
Banjir yang terjadi pada rel KA di sisi barat  Lusi, sebagai indikasi dari dampak terjadinya amblesan dan atau kemiringan tanah kearah Pusat Semburan.
Judul ceramah LUSI:
Geologi dan Keteknikan dari suatu bencana Mud Volcano di Jawa (LUSI: the Geology and Engineering of a Mud Volcano disaster in Java).
David Shilston CGeol FGS FRSA, President of The Geological Society of London, 22 Januari 2014.Logo The Geological Society of London. 
Inset cuplikan foto citra helikopter memperlihatkan 2 titik semburan Lusi, dan aliran debris flow kearah Pond Jatirejo.
Alur Pembahasan mencakup :
Asal usul (Origin) atau kejadian, Evolusi (Evolution), Dampak dan Mitigasi (Impact & mitigation), Ke depan (the future).
Foto memperlihatkan kegiatan pemelihara tanggul di segitiga Osaka (Osaka) dan lokasi berdampingan sisi barat Lusi mud volcano.
Dibatasi oleh tanggul penahan luapan lumpur dengan jalan arteri dimana lalulintas padat.
Asal Mula (Origin)
Pengendali mekanisme pembentukan mud volcano:
Pengendali mekanisme pembentukan mud volcano berdasarkan fakta-fakta, sumber (Dimitrov, 2003).


Minggu, 08 Maret 2015

Fukushima 2009

LUSI LIBRARY FILE

EBOOK LUSI

DEFORMASI AMBLESAN GPS DAN INSAR

"Bukti Semburan Lusi memicu terjadinya Semburan, dengan tiga elip InSAR"



Dikontribusikan Oleh: Dr. Hardi Prasetyo

Untuk Pendidikan Publik

Menuju LUSI GEOPARK



GOOGLE SITE:

https://sites.google.com/site/referensiahlilusi/fukushima



'via Blog this'



Fukushima


Fukhusima 2009: 
Amblesan berasosiasi dengan semburan mud  volcano LUSI,Jawa Timur diselidiki dengan SAR Interferometry
Artikel Fukushima Abidin (2008) bila disandingkan dengan Fukhusima  (2009) telah  ditentukan sebagai pendahulu atau  pionir penyelidikan  fenomena Lusi mud volcano, yang secara khusus memberikan fokus padaaspek Pergerakan Tanah (land displacement).
Dimana Abidin (2008)  mengkokohkan keberadaan, evolusi, danperkiraan ke depan pergerakan tanah di Lusi mud volcano, dengankekuatan utama studi GPS. Sedangkan Fukhusima (2009), lebih fokur  menggunakan basis InSAR.
Pada perkembangan selanjutnya kombinasi GPS dan InSAR telahdigunakan sebagai basis untuk evaluasi  Deformasi Tanah di Lusi mud volcano dan perkiraan panjang semburan Lusi, antara lain:
Shielston (2004, 2003), Andreas (2004, 2012), dan Rudolph (2003).
Identifikasi, karakteristik, dan besarnya amblesan tanah, telah digunakansebagai basis pemodelan terhadap pertumbuhan dan perkembanganmud volcano Lusi, oleh Istadi  (2009). Dikontribusikan oleh HardiPrasetyo, even LUSI 8 TAHUN. 



GEO-LUSI: Kemungkinan penyebab dari amblesan (subsidence) 

Dampak pembebanan dari lumpur yang disemburkan (loading effect of the erupted mud),

Pembentukan silinder saluran lumpur dan pengerutan karenatekanan horisontal (creation of a cylindrical mud conduit),
Pengurangan tekanan dan deplesi dari material pada kedalaman(pressure decrease and depletion of materials at depth). 



Abstract: Amblesan berasosiasi dengan semburan Lusi mud volcano, Jawa Timur, Diselidiki SAR interferometry, Yo Fukushima et al (2009).

Suatu mud volcano LUSI awalnya menyembur pada 29 Mei 2006,berlokasi di  dekat sumur eksplorasi (exploration well), di Jawa Timur.

Amblesan tanah (Ground subsidence) di sekitar semburan kawah LUSI,telah dapat direkam secara baik  dengan menggunakan teknologiSynthetic Aperture Radar (SAR) PALSAR,  yang ditempatkan pada satelitALOS milik Jepang.

Dalam rangka mendapatkan peta yang berlanjut dari pergerakan tanah(ground displacement) di sekitar LUSI. Telah diterapkan  teknikInterferometric SAR (InSAR)  pada sepuluh cakupan data PALSAR, yangdiambil antara 19 Mei  2006 dan 21 Mei 2007.

Walaupun pergerakan di sekitar area terdekat dari saluran semburan(eruptive vent) dengan cakupan spasial sekitar 1,5 km, tidak dapatdisentuh karena semburan lumpur.

Namun semua  interferogram yang diproses (processed interferograms) mengindikasikan terjadinya amblesan (subsidence) pada suatu elipmencakup area sekitar 4 km (utara-selatan), 3 km (timur barat,  daripusat lubang semburan utama (main eruptive vent). 

Secara kusus,  interferogram yang digulirkan pada empat bulan pertamasampai  4 Oktober 2006  dan berlanjut 46 hari antara  4 Okt.-Nov. 2006memperlihatkan adanya pergerakan sekurang-kurangnya sekitar  70 cmdan 80 cm menjauhi dari satelit  (displacements away from the satellite).

Kemungkinan penyebab dari amblesan antara lain: 1) Efek pembebanandari lumpur yang disemburkan (loading effect of the erupted mud), 2) Pembentukan silinder saluran lumpur (creation of a cylindrical mud conduit), dan 3) Pengurangan tekanan dan deplesi dari material padakedalaman (pressure decrease and depletion of materials at depth)

Dampak dari penyebab pertama (pembebanan) dan kedua(pembentukan penghubung) tidak dapatnya menentukan besarnya totalamblesan yang diamati pada enam bulan pertama.

Kemungkinan yang ketiga (pengurangan tekakan) adalahmengkuantitatifkan pengujian menggunakan pendekatan elemen yangberbatasan, dengan memodelkan  sumber deformasi  (modeling the source of deformation) sebagai  suatu  deflating oblate spheroid. 

Perkiraan speroid terletak pada kedalaman beberapa ratus sampai ribuanmeter.

Perkiraan kedalaman secara signifikan  lebih dangkal daripada hasilpengamatan dari analisa contoh berasal dari semburan.

Perbedaan dijelaskan oleh terdapatnya jumlah  deformasi yang tidakelastik (significant amount of inelastic deformation), termasuk kompaksidan pemindahan material ke bawah (compaction and downward transfer of material).



KESIMPULAN: Amblesan  berasosiasi dengan Lusi mud volcano, di Jawa Timur, Diselidiki dengan SAR Interferometry, YoFukushima et al (2009)

SAR interferograms  yang telah diproses mencakup periodewaktu satu tahun dari  saat semburan LUSI (LUSI mud eruption) pada  Mei 2006.

Secara konsisten  memperlihatkan suatu amblesan  dari pada  area berbentuk elip (subsidence over an ellipsoidal area)mencakup  area sekitar  4 km X 3 km dari pusat semburanutama (centered on the main eruptive vent).

Efek dari pembebanan lumpur (Effects of loading of mud) danpembentukan silider pada dari saluran lumpur (creation of a cylindrical mud conduit) dari suatu radius beberapa meteradalah  sangat kecil untuk menjelaskan jumlah dari totalgerakan tanah yang dapat diamati pada enam bulan pertamadari saat awal semburan;

Deplesi material dan berkurangnya tekanan fluida padakedalaman (Depletion of material and decrease of fluidpressure at depth), kemungkinan sebagai penyebab dominandari amblesan (probably the dominant cause of the subsidence).

Dengan menggunakan  perbedaan kedalaman dari sumberdeformasi dan material yang  disemburkan diperkikaran olehMazzini et al. (2007) (1.2–1.9 km), 


Kami percaya bahwa model konseptual dari subsidence dimana kompaksi dan material yang bergerak ke bawahmengisi kekosongaan ruang oleh erupsi dari level yang lebihdalam (a conceptual model of subsidence where compactionand downward material transfer fill the space depleted by theeruptive products from deeper levels). 

SAR interferometry  menggunakan PALSAR  menghasilkanmodel mekanisme dapat  secara berkelanjutanmengkontibusikan  peta amblesan tanah dan perkiraan prosesyang terjadi di bawah permukaan (products and mechanical modeling can continue to contribute to map the ground subsidence and infer the ongoing subsurface processes);  

Untuk pengkajian resiko ke depan secara lebih rinci, akansangat bernilai adanya suatu kebersamaan analisis dengandata GPS dan gayaberat (for assessing future risks in more detail, a joint analysis.