Minggu, 03 Juni 2018

AGU 2018: SESI KHUSUS LUSI,


AGENDA SESI KHUSUS LUSI: PRESENTASI POSTER AGU 2018


Posters GMPV3.3/BG5.4/TS10.5
GMPV3.3/BG5.4/TS10.5

DARI SISTEM HIDROTERMAL KE MUD VOLCANO: STRUKTUR, EVOLOSI DAN PEMANTAU DARI PEMBUBUNGAN AKTIF DAN PURBA

From hydrothermal systems to mud volcanoes: structure, evolution and monitoring of active and fossile piercements (co-organized)
Convener: Matteo Lupi  
Co-Convener: Adriano Mazzini 

Dievaluasi oleh: Hardi Prasetyo
"Sciences Manager" Misi Nasional Penanggulangan Bencana Lusi 2007-2017, Kerjasama LUSI-LAB

Orals GMPV3.3/BG5.4/TS10.5

GMPV3.3/BG5.4/TS10.5

From hydrothermal systems to mud volcanoes: structure, evolution and monitoring of active and fossile piercements (co-organized)
Convener: Matteo Lupi 
Co-Convener: Adriano Mazzini

Tuesday, 10 Apr 2018
Room -2.21
Chairperson: Matteo Lupi-Adriano Mazzini
Mud volcanism
08:30–08:45
EGU2018-13491
Hydrothermal pore fluid characterization of the Azores Plateau
Christopher Schmidt, Christian Hensen, Mark Schmidt, Steffen Kutterolf, Christian Hübscher, and Thor Hansteen
08:45–09:00
EGU2018-19176
Structural setting and earthquake triggering of mud volcanoes: examples from Azerbaijan and Italy | Highlight
Marco Bonini, Daniele Maestrelli, and Michael Manga

The Lusi eruption site

09:00–09:15
EGU2018-2125

A review of drilling reports from the Banjarpanji-1 well and Indonesian seismicity to assess hypotheses about the trigger of the Lusi eruption | Highlight
Mark Tingay, Michael Manga, Max Rudolph, and Richard Davies
09:15–09:30
EGU2018-19016

The Lusi mud eruption (Indonesia): A lookback on Banjarpanji 1 Drilling Data that Dismiss the Speculation on Drilling Triggers | Highlight
Edi Sutriono, Bambang Istadi, Nurrochmat Sawolo, and Agung Darmoyo
Hydrothermal systems

09:30–09:45
EGU2018-12187
Giant pockmarks in Lake Neuchatel (Switzerland): new evidence for sublacustrine karst groundwater discharge
Stefanie B. Wirth, Damien Bouffard, Rolf Kipfer, and Jakob Zopfi
09:45–10:00
EGU2018-19165
How to recognise sill induced hydrothermal vent structure in large igneous provinces: key observations from outcrop to seismic. | Highlight
Dougal Jerram, Henrik Svensen, Sverre Planke, John Millett, Ben Manton, and Reidun Myklebust
 / Tue, 10 Apr, 08:30–10:00 / Room -2.21

X2.366

Geophysical and soil degassing observations at the Kalang Anyar mud volcano, East Java.
Matteo Lupi, Alessandra Sciarra, Adriano Mazzin, Aurore Carrier, Alwi Husein, and Karyono Karyono

X2.367

Subaqueous and and subareal mud volcanism at Kalang Anyar, Java, Indonesia
Adriano Mazzini, Alessandra Sciarra, Matteo Lupi, and Alwi Husein

X2.369

Multidisciplinary studies at the Lusi eruption site, Java, Indonesia
Stephen A. Miller and Adriano Mazzini 

X2.370

Investigating external perturbations for the Lusi mud eruption, NE Java, Indonesia
Alessandra Sciarra, Giancarlo Ciotoli, Maria Grazia Finoia, Alwi Hussein, and Adriano Mazzini

X2.371

Mantle-derived fluids in the oil and gas fields around the Lusi mud eruption, NE Java, Indonesia
Alexandra Zaputlyaeva, Adriano Mazzini, Antonio Caracausi, Henrik Svensen, and Alessandra Sciarra


X2.372
The sources of oil erupted at Lusi, NE Java, Indonesia
Alexandra Zaputlyaeva, Adriano Mazzini, Martin Blumenberg, Georg Scheeder, and Henrik Svensen


X2.373

The Plumbing System Feeding the Lusi Eruption Revealed by Ambient Noise Tomography
Mohammad Fallahi, Anne Obermann, Matteo Lupi, Karyono Karyono, and Adriano Mazzini

X2.374

Deep versus shallow origin of hydrocarbon degrading microorganisms in sediments from the active Lusi eruption site, Indonesia
Martin Krueger and Adriano Mazzini


Sutriono EGU 2018: Semburan Lusi Tinjauan ke belakang pada data pemboran Banjarpanji-1

Situs Semburan Lusi
Geophysical Research Abstracts Vol. 20, EGU2018-2125, 2018 EGU General Assembly 2018 © Author(s) 2017.

Semburan Lusi mud volcano (Indonesia): Tinjauan ke belakang pada data pemboran Banjarpanji-1  yang menghilangkan spekulasi terhadap pemicu Pemboran

The Lusi mud eruption (Indonesia): A look back on Banjarpanji 1 Drilling Data that Dismiss the Speculation on Drilling Triggers

Edi Sutriono (1), Bambang Istadi (1), Nurrochmat Sawolo (2), and Agung Darmoyo (1)
(1) Energi Mega Persada, BD, Indonesia (bambang.istadi@emp.id),
(2) Drilling Consultant


Ditinjau Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Sciences Manager,  Misi Nasional Penanggulangan Bencana LUSI
2006-2017, Kerjasama BPLS-LUSI LAB
TINJAUAN: EGU 2018

Abstrak

Semburan lumpur Lusi bemula pada tanggal 29 Mei 2006, bersamaan dengan terjadinya situs erupsi lainnya, yang berlokasi searah dengn membentuk suatu kelurusan (simultaneously with other aligned eruption sites) di Timurlaut Jawa, Indonesia.
Selama fase awal terjadinya semburan, data pengeboran sumur Banjarpanji 1 yang lokasinya berdekatan. tetap tidak dipublikasikan (the drilling data of the neighboring Banjarpanji 1 well remained unpublished).
Kurangnya data ini (This lack of data) telah menyebabkan banyak teori-teori berkenaan dengan pemicu semburan (regarding the triggering of the eruption sites) yang bersifat spekulatif (led to many speculative theories).
Pada tahun 2009 Sawolo dkk. (2009-2010) telah mempresentasikan dan membahas data pengeboran sumur Banjarpanji-1, sehingga data terkait telah membuat sepenuhnya tersedia (making these fully available) untuk ranah publik (to public domain)
Hal ini memungkinkan bagi para Insinyur pengeboran profesional untuk melakukan analisis mereka sendiri (to perform their own analysis) dan menghasilkan kesimpulan mereka sendiri (come up with their own conclusions).
Pada paparan ini disajikan secara penuh data pengeboran (present the full drilling data) dan menyoroti kronologi kejadian yang bermakna (highlight the chronology of the events).
Selanjutnya mengundang pihak yang tertarik untuk dapat menginspeksi terhadap himpunan data (welcoming inspections of the dataset).
Para Insinyur pengeboran yang berpengalaman telah mengetahui tentang banyaknya data pengeboran yang tersedia.
Setiap data yang akan digunakan untuk analisis harus diperiksa silang (Any data to be used for analysis must be cross checked), untuk memastikan keandalan dan transparansi sepenuhnya (to ensure its reliability and full transparency) pada interpretasi (of the interpretation).
Analisis yang bias dapat berisiko memilih data yang sesuai (Biased analysis may run the risk of selecting suitable data), hanya untuk menjelaskan hipotesis yang telah ditetapkan sebagai suatu yang apriori (only to explain hypothesis preset a-priori).
Sebagai contoh, seseorang harus memberi bobot lebih pada bukti yang tidak bias (As an example, one should give more weight to unbiased) dan bukti yang padu   (and solid evidence) seperti data Real Time Mud Logger, tekanan pepompaan terdokumentasi, dan lain-lain sebelum menghitung pengamatan visual yang kurang padu (before counting on less solid visual observations)
Metode analisis adalah bidang lain dimana pengalaman di lapangan sangat penting.
Bila dataset lengkap terintegrasi dan analisis tekanan dilakukan di sumur Banjarpanji 1, seperti pada Sawolo et al. (2010), sehingga hal ini dengan jelas telah menunjukkan bahwa sepatu selubung tetap utuh (it clearly points out to an intact casing shoe). 
Hal tersebut  menunjukkan tidak adanya hubungan langsung antara sumur dan situs erupsi lumpur yang sedang berlangsung (no direct connection between the well and the ongoing mud eruption sites).
Hal ini sangat mengusulkan bahwa pemicu pengeboran terhadap semburan LUSI (This strongly suggests that the drilling trigger of the LUSI eruption) bukanlah merupakan teori yang masuk akal (is not a plausible theory).
Penulis menyambut adanya penelitian lebih lanjut di situs semburan LUSI (The authors welcome further studies on the LUSI eruption site) untuk membantu pemahaman yang lebih baik terhadap asal mula dan wujud (to help a better understanding of the origin and nature) dari fenomena yang spektakuler ini (of this spectacular phenomenon).
Namun penelitian ke depan, harus dilakukan secara profesional (Future studies, however, should be done professionally) berdasarkan keahlian spesifik seseorang, kumpulan data terpadu dan penerapan praktik teknik pengeboran yang tepat (proper application of a sound engineering drilling practice).

Abstract Original


The Lusi mud eruption started the 29th of May 2006 simultaneously with other aligned eruption sites in the NE of Java, Indonesia. During the early phases of the eruption, the drilling data of the neighboring Banjarpanji 1 well remained unpublished. 
This lack of data led to many speculative theories regarding the triggering of the eruption sites. In 2009 Sawolo et al. (2009-2010) presented and discussed the drilling data of the Banjarpanji1 well making these fully available to public domain.
This allowed professional Drilling Engineers to perform their own analysis and come up with their own conclusions.
Here we present the full drilling data and highlight the chronology of the events welcoming inspections of the dataset. Experienced Drilling Engineers are aware about the vast amount of drilling data available.
Any data to be used for analysis must be cross checked to ensure its reliability and full transparency of the interpretation. Biased analysis may run the risk of selecting suitable data only to explain hypothesis preset a-priori.
As an example, one should give more weight to unbiased and solid evidence such as Mud Logger’s Real Time Data, documented pump pressures, etc. before counting on less solid visual observations.
 Method of analysis is another area where field experience is crucial. When the full dataset is integrated and pressure analysis done on the Banjarpanji 1 well, as in Sawolo et al. (2010), it clearly points out to an intact casing shoe and no direct connection between the well and the ongoing mud eruption sites.
 This strongly suggests that the drilling trigger of the LUSI eruption is not a plausible theory. The authors welcome further studies on the LUSI eruption site to help a better understanding of the origin and nature of this spectacular phenomenon.
Future studies, however, should be done professionally based on one’s specific expertise, an integrated dataset and proper application of a sound engineering drilling practice.

Sabtu, 02 Juni 2018

Tingay 2018 AGU: Suatu tinjauan dari laporan pemboran sumur Banjarpanji-1 dan kegempaan Indonesia

Situs Semburan Lusi
Geophysical Research Abstracts Vol. 20, EGU2018-2125, 2018 EGU General Assembly 2018 © Author(s) 2017.
Suatu tinjauan dari laporan pemboran sumur Banjarpanji-1 dan kegempaan Indonesia untuk mengkaji hipotesis tentang pemicu semburan Lusi

A review of drilling reports from the Banjarpanji-1 well and Indonesian seismicity to assess hypotheses about the trigger of the Lusi eruption

Mark Tingay (1), Michael Manga (2), Max Rudolph (3), and Richard Davies (4)
(2) University of California, Berkeley, Berkeley, United States
(1) University of Adelaide, (3) University of California, Davis,
(4) Newcastle University

Ditinjau Oleh: Dr. Hardi Prasetyo
Sciences Manager,  Misi Nasional Penanggulangan Bencana LUSI
2006-2017, Kerjasama BPLS-LUSI LAB

Abstrak

Penyebab semburan lumpur Lusi (The cause of the Lusi mud eruption) masih tetap menjadi hal yang kontroversial (remains controversial).
 Salah satu hipotesis  adalah bahwa semburan Lusi dipicu oleh gempabumi dengan intensitas M 6,3 di selatan  Yogyakarta,  berjarak 254 km dari Situs Lusi (the eruption was triggered by the M6.3 Yogyakarta earthquake some 254 km away). Hipotesis kedua adalah bahwa semburan Lusi tersebut disebabkan oleh pengeboran.
Pada makalah ini ditinjau data pengeboran dan laporan pengeboran harian (We review drilling data and the daily drilling reports).
Dimana dengan jelas telah dapat mengkonfirmasikan bahwa lubang sumur sudah tidak utuh (which clearly confirm that the wellbore was not intact), dan bahwa telah terjadi suatu ledakan di bawah permukaan (there was a subsurface blowout).
 Data tekanan ke bawah lubang dari Lusi (Downhole pressure data from Lusi) langsung dapat menyaksikan kelahiran Lusi di permukaan pada tanggal 29 Mei 2006 (directly witness the birth of Lusi at the surface on the 29th of May 2006).
Dimana menunjukkan bahwa adanya hubungan langsung (indicating a direct connection) antara sumur dan semburanj Lusi (between the well and the eruption).
Selanjutnya, laporan pengeboran harian secara khusus juga menyatakan (the daily drilling reports specifically state) bahwa aktivitas Lusi terlihat berubah (that Lusi activity was visibly altered) dalam tiga kesempatan terpisah (on three separate occasions).
Dalam upaya mencoba menghentikan semburan (by attempts to kill the eruption) dengan memompa cairan padat ke sumur BJP-1 (by pumping dense fluid down the BJP-1 well).
Hal ini memberikan bukti lebih lanjut tentang adanya hubungan antara sumur bor dan Lusi (providing further evidence of a connection between the wellbore and Lusi).
 Dibandingkan dengan contoh lain dari semburan lumpur yang baru terjadi di tempat lain oleh gempa bumi lainnya, gempa Yogyakarta jauh memberikan kekuatannya (the Yogyakarta earthquake was far away given its magnitude).
Kerapatan energi seismik (the seismic energy density) gempa Yogyakarta hanya 0,0043 J/m3, dimana berada kurang seperempat dari kepadatan energi seismik minimum 0,019 J/m3. Yang pernah disimpulkan telah memicu semburan lumpur baru di tempat lain (that has ever been inferred to trigger new mud eruptions elsewhere).
Kami menunjukkan bahwa wilayah Lusi sebelumnya pernah mengalami gempa dangkal lainnya (the Lusi area had previously experienced other shallow earthquake) dengan frekuensi yang sama dan goyangan tanah yang kuat (similar frequencies and stronger ground shaking), namun tidak memicu semburan (that did not trigger an eruption).
Akhirnya, data dari sumur BJP-1 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan hidrodinamika sebelumnya (the data from the BJP-1 well indicates that there was no prior hydrodynamic connection) antara cairan hidrotermal berkedudukan dalam yang mengalami tekanan berlebih dan lempung Kalibeng dangkal (deep overpressured hydrothermal fluids and the shallow Kalibeng clays).
Disamping itu tidak ada bukti terjadinya pencairan atau pergerakan dari lempung Kalibeng yang disebabkan oleh gempa tersebut (there was no evidence of any liquefaction or remobilization of the Kalibeng clays induced by the earthquake).
 Karena itu penulis menyatakan  lebih favorit terhadap inisiasi Semburan Lusi oleh  pengeboran dan bukan oleh gempa (We thus strongly favor initiation by drilling and not an earthquake)

ABSTRACT

 The cause of the Lusi mud eruption remains controversial.
One hypothesis is that the eruption was triggered by the M6.3 Yogyakarta earthquake some 254 km away.
The second is that the eruption was caused by drilling.
We review drilling data and the daily drilling reports, which clearly confirm that the wellbore was not intact and that there was a subsurface blowout.
 Downhole pressure data from Lusi directly witness the birth of Lusi at the surface on the 29th of May 2006, indicating a direct connection between the well and the eruption.
Furthermore, the daily drilling reports specifically state that Lusi activity was visibly altered on three separate occasions by attempts to kill the eruption by pumping dense fluid down the BJP-1 well, providing further evidence of a connection between the wellbore and Lusi.
 By comparison with other examples of newly initiated mud eruptions elsewhere by other earthquakes, the Yogyakarta earthquake was far away given its magnitude.
 The seismic energy density of the Yogyakarta earthquake was only 0.0043 J/m3, which is less than a quarter of the minimum 0.019 J/m3 seismic energy density that has ever been inferred to trigger new mud eruptions elsewhere.
 We show that the Lusi area had previously experienced other shallow earthquakes with similar frequencies and stronger ground shaking that did not trigger an eruption.
  Finally, the data from the BJP-1 well indicates that there was no prior hydrodynamic connection between deep overpressured hydrothermal fluids and the shallow Kalibeng clays, and that there was no evidence of any liquefaction or remobilization of the Kalibeng clays induced by the earthquake.

We thus strongly favor initiation by drilling and not an earthquake.

Jumat, 01 Juni 2018

Lupi 2018 EGU: Dari Sistem Hidrotermal ke mud volcano

GENERAL AGU 2018

GMPV3.3/BG5.4/TS10.5 
Dari sistem hidrotermal ke mud volcano: struktur, evolusi dan pemantauan dari pembubungan aktif dan purba
From hydrothermal systems to mud volcanoes: structure, evolution and monitoring of active and fossil piercements

Convener: Matteo Lupi  Co-Convener: Adriano Mazzini 



KATA KUNCI ABSTRAK

·       Fenomena Geologi yang paling spektakuler yang terjadi di Bumi ini yaitu  sistem-sistem hidrotermal, mud volcano, hibrida induk sedimen hidrotermal dan struktur pembubungan
·       Struktur sistem-sistem hidrotermal, mud volcano, hibrida induk sedimen hidrotermal dan struktur pembubungan memainkan peran penting pada evolusi planet bumi dan siklus kehidupan
·       Struktur pembubungan aktif dengan sistem saluran berakar dalam dan reaksi geokimia yang komplek
·       Dapat berperan sebagai laboratorium alam terhadap dinamika struktur dipicu kegempaan
·       Multidisiplin studi untuk lebih memahami fenomena pembubungan modern dan purba 
·       Enam aspek terkait: Struktur yang telah ada, Reaksi geokimia, geofisika, eksperintal dan numerik, pemantauan yang aktif untuk prediksi yang purba, iklim purba.

ABSTRAK


Fenomena Geologi yang paling spektakuler yang terjadi di Bumi ini:  sistem-sistem hidrotermal, mud volcano, hibrida induk sedimen hidrotermal dan struktur pembubungan

Sistem-sistem hidrotermal (Hydrothermal systems), gunung lumpur (mud volcanoes), lingkungan hibrida seperti sistem hidrotermal (hybrid environments) sebagai induk sedimen sistem hidrotermal (sedimentary hosted hydrothermal systems) dan struktur pembubungan (piercement structures).
Pada umumnya merupakan fenomena geologi yang paling spektakuler di Bumi kita ini (the most spectacular geological phenomena on Earth).
Struktur sistem-sistem hidrotermal, mud volcano, hibrida induk sedimen hidrotermal dan struktur pembubungan memainkan peran penting pada evolusi planet bumi dan siklus kehidupan
Beberapa penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa struktur-struktur tersebut telah memainkan peran kunci dalam evolusi planet Bumi kita (play a key role in the evolution of our planet).
Disamping itu pada siklus kehidupan selama beberapa era geologis (the cycles of life during several geological eras). 
Struktur pembubungan aktif dengan sistem saluran berakar dalam dan reaksi geokimia yang komplek
Pembubungan aktif biasanya ditandai dengan sistem saluran yang berakar dalam dan reaksi geokimia yang kompleks (by deep-rooted plumbing systems and complex geochemical reactions). Dimana kehidupan dapat beradaptasi dengan berkembang di lingkungan yang sangat ekstrim (where life can adapt to thrive in extremely harsh environments), sehingga menjadikannya sebaai sasaran ideal untuk eksplorasi biosfer yang dalam.
Dapat berperan sebagai laboratorium alam terhadap dinamika struktur dipicu kegempaan
Sinyal geofisika (geophysical signals) yang terkait dengan lingkungan tersebut sering kali ambisius dan sulit untuk ditafsirkan.
Dengan sering ditemuni adanya peningkatan tekanan pori (elevated pore pressures) pada kedalaman dan dengan laju aliran yang tinggi (the high flow rates), sehingga sering membuat struktur ini menjadi laboratorium alami yang ideal untuk menangkap kejadian gempa sebelumnya (to capture precursors of seismic events) dan dipicu oleh proses-proses geologi yang dinamis (dynamically triggered geological processes).
Struktur pembubungan sering dilaporkan bereaksi atau merespon kejadian gempabumi dan daya dari luar (to respond to earthquakes and external forcing).
Multidisiplin untuk lebih memahami fenomena pembubungan modern dan purba 
Pada Sesi EGU 2018 ini saya menyambut baik kontribusi dari para ahli geokimia, mikroba, geofisika, geologi, numerik dan laboratorium (geochemical, microbial, geophysical, geological, numerical and laboratory studies).
Untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik (to promote a better understanding of) terhadap fenomena pembubungan modern dan purba (modern and palaeo piercement phenomena).  
Enam aspek terkait: Struktur yang telah ada, reaksi geokimia, geofisika, eksperintal dan numerik, pemantauan  yang aktif untuk prediksi yang purba, iklim purba.
Secara khusus telah diundang beberapa penelitian yang terkait dengan 6 aspek terkait, yaitu:
1)      Penyelidikan terhadap pengendali struktur geologi yang sudah ada sebelumnya (pre-existing geological structures);
2)      Reaksi geokimia yang terjadi pada kedalaman (the geochemical reactions occurring at depth) dan di permukaan, termasuk studi mikrobiologi (microbiological studies);
3)       Penyidikan sistem tersebut dengan metode geofisika;
4)      Studi eksperimental dan numerik;
5)      Survei dan pemantauan terhadap kedudukan dan  lingkungannya (the survey and the monitoring of these settings and environments) untuk mempelajari dinamika sistem yang telah  punah dari yang masih aktif (of the extinct systems from the active ones);
6)      Studi tentang pembubungan purba beserta pengaruhnya terhadap iklim purba (palaeo climate).


Kamis, 05 Mei 2016

Peta 3d lusi Gis 3d

From Russian With Lusi
Prasetyo 2010

LUSI 10 TAHUN

PELAJARAN BERHARGA (LESSONS LEARNED) PEMETAAN BAWAH PERMUKAAN LUSI MUD VOLCANO MENERAPKAN GIS 3-D DARI PENAMPANG SEIMIK 2-D, OLEH TIM RUSIA 2009

Langkah Upaya Pengulangan Bencana Lusi, Rencana 2017
Memetakan Postur dan Perilaku Semburan di bawah Permukaan Lusi 3-d dengan pengambilan data baru penampang seismik refleksi 3-D.

Testimoni:

Pemetaan Bawah Permukaan Lusi mud volcano dengan teknologi GIS 3-d berdasarkan seismik releksi 2-d sebelum semburan Lusi (lebih tua 2006).

Tahun 2010 saya beruntung karena dapat menggulirkan even "From Russian with Lusi'.
Kunjungan untuk fact finding "Penanganan mud volcano di Rusia" dan Road Show diskusi di Moscow, Saint Petersburg, Singapura dan Jakarta.

Hasil Penting

Dari Pemetaan 3-d di bawah Lusi, Tim Rusia Temukan Tubuh 2 mud diapir di dekat Lusi, selain Lusi sendiri.

Disertai peringatan dini bahwa dua struktur diapir tersebut, bila dipicu oleh gempabumi bisa menjadi mud volcano seperti haknya Lusi.

Tim Rusia berpendapat bahwa kejadian Lusi diawali dengan dipicu gempabumi November 2005 di dekat Sidoarjo.
Baru gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 sebagai "Kick Off", memicu fluidasasi lumpur overpressure.

Rusia termasuk Azerbaijan  disepakati sebagai lokasi 40% terjadinya mud volcano di dunia, sehingga dinilai mempunyai pengalaman dalan menangani mud volcano.

Di Rusia fenomena struktur pembubungan lumpur overpressure (piecerment overpressure mud structure) sering kali sebagai alat bantu untuj mendukung kegiatan eksplorasi Migas.

Tidak heran banyak lapangan produksi migas terdapat di sayap antiklin dekat mud volcano.

Para ahli kebumian Rusia tidak pernah memikirkan, bahwa suatu mud volcano sebagai fenomena Geologi dan mesin bumi kita yang dahsyat, akan dimatikan atau kill eruption?

Kelebihan dari Pandangan Tim Rusia yang berpengalaman dengan Mud volcano, antara lain Mereka Mengusulkan untuk membangun SISTEM PEMANTUAN LUSI DENGAN SISTEM POLIGON (Memasang stasiun kegempaan, Magnetik, bayaberat).

Intinya memantau  kondisi Tekanan di bawah Lusi, untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perulangan Semburan Dahsyat yang merusak (violence and destructive eruption), seperti  ketika tahun-tahun 2006-2009.

Salah satu prediksi yang tepat dari Tim Rusia, bahwa semburan dahsyat merusak yang pernah mencapai 180.000m3/hari (2006-2008), akan cepat menurun intensitasnya.

Namun masih mungkin terjadinya perulangan even  violence eruption, karena itu perlunya sistem pemantauan POLIGON.

Foto: Postur Lusi, Mei 2016 dari Zona Ilmiah Hawai.

Senin, 21 Maret 2016

LUSI PUSAT UNGGULAN MUD VOLCANO DI DUNIA





https://youtu.be/J8DlAOkPdtg



SERI LUSI
MENJELANG 10 TAHUN, BPLS 9 TAHUN

Dikontribusikan oleh: Prof. Dr. Hardi Prasetyo, Plt. Kepala Bapel BPLS 


Postur
dan Perilaku Semburan Ganda Sulung, sisi timur (2006) dan Bungsu, sisi barat
(2010).

Diambil
dengan Pewawat Nir Awak Drone mini (berukuran kecil), kerjasama BPLS dan Badan
Geologi, dengan pilot Ron Agusta dan Sutradara Heryadi Rachmat​.

Tahun
2016 BPLS telah memiliki Drone berukuran maxi yang kembar dengan LUSI DRONE
(LUSI LAB), namun masih secara bertahap untuk dapat menguasainya sampai tahap
Produksi yang optimal.

Hal yang
menarik adalah, pengambilan Semburan Geyser Lusi tandem ini berada pada waktu
dan lokasi yang tepat (the right time and the right place) karena pada bulan
November 2015 baru pertama kalinya direkam 
terjadinya simponi alam yang kompak. Dimana Geysre Lusi Sulung dan
Bungsu bersamaan menyajikan semburan Geyser dari uap air yang menjulang tinggi,
diawali dengan even mud kick dan pembentukan struktur bunga lumpur (mud flower
structure) yang indah.

Waktu
pengambilan Drone, juga tidak berselang lama saat Susan Norie artis dari
Australia dengan dua kameramen dari Jepang dapat mengabadikan Simponi Alam
Geyser Lusi tersebut dengan video.

Tidak
lama kemudian Ahli Kebumian dari Eropah Dr. Andriano Mazzini dan Dr. Murie juga
menyaksikan "simponi alam Geyser Lusi".



































Geyser Lusi mud volcano 2014





SERI LUSI 10 TAHUN, BPLS 9 TAHUN
LUSI PUSAT UNGGULAN STUDI MUD VOLCANO DI DUNIA
BIKE TO WORK LUSI
SOLO CLIMBING (PENJELAJAHAN GUNUNG LUSI SENDIRIAN).